D' OxVille Hotel Hotel Mewah Senyaman Rumah

Berita Bisnis (Padang) - Bisnis hotel terus tumbuh di Sumatera Barat. Tingkat kunjunganpun meningat drastis, seiiring peningkatan jumlah kamar. Masing-masing hotel menawarkan pelayanan dan paket-paket yang berbeda.

Berbeda dengan hotel lainnya yang sudah ada, d'OxVille hotel yang terletak di Kampung Sebelah, Kecamatan Padang   Selatan justru memberikan penawaran yang berbeda dari segi desain hotel dan pelayanannya.

Jika anda mampir ke hotel ini suasana rumah di Minangkabau akan terasa kental. Pada halaman depan hotel terdapat pedati, transportasi masyarakat Sumatera Barat  tempo dulu. Ketika Anda menginjak kaki di resepsionis, anda akan disapa dengan senyum ramah pelayan hotel. Di Ruangan depan iniakan kita jumpai berbagai ornament yang terbuat dari kayu serta lukisan lama yang mengandung nilai-nilai estika yang tinggi.
“Untuk para tamu kami menyediakan kursi di bagian resepsionis, sesuatu yang tidak pernah akan anda jumlai di hotel lain. Masuk ke hotel ini Anda akan merasakan serasa rumah sendiri dengan arsitektur yang mewah dan berkelas,” kata Johanes Rizal, General Manager d'OxVille Hotel .

Konsep yang ditawarkan adalah boutigue hotel, dimana tamu yang datang diharapkan bisa tinggal lama di hotel ini. Tidak sekedar menginap namun mereka juga menikmati berbagai hal dan keunikan tentang Minangkabau. Lokasinya pun mudah dicari, di jalan Kampung Sebelah masuk dari arah Simpang  Enam atau dibelakang kripik Balado Cristine Hakim. (hazel)
read more →

Tabuik: Mengenang Kematian Imam Husein


Tabuik: Mengenang Kematian Imam Husein

Liputan6.com, ParPariaman: Muharam singgah di Pariaman, kota kecil kawasan bibir pantai Sumatera Barat. Inilah salah satu bulan istimewa kaum muslim. Periode yang merekam berbagai peristiwa sejarah besar keislaman. Sebagai kota yang mayoritas penduduk memeluk agama islam, Pariaman menjadi satu-satunya daerah selain Bengkulu, yang sibuk menyambut Muharam. Kesibukan itu terkait prosesi besar bernama Tabuik. Tabuik adalah ritual adat untuk mengenang kematian cucu Nabi Muhammad, Husein bin Ali.
Pariaman : Husein tewas ketika memimpin pasukannya saat bertempur melawan kaum Bani Umayah di Padang Karbala. Tanggal 190 Muharam tahun 61 Hijriah, atau 10 Oktober 680 Masehi, Husein bin Ali bersama pasukannya sekitar 70-an, bertempur melawan pasukan Bani Umayah pimpinan Ibnu Ziyad yang jumlahnya mencapai 4000-an orang. Pada hari itu, hampir semua pasukan Husein tewas termasuk ia sendiri, yang harus mengalami penyiksaan keji sebelum menemui ajal.
Bangsa Arab mengenal moment bersejarah itu sebagai hari Asyura, hari ke-10 di bulan Muharam. Sejarah peperangan paling keji dalam dunia islam, dan kaum muslim Syiah, umat yang memegang teguh ajaran Nabi Muhammad serta Ahlul Bait menjadikan hari itu sebagai hari berkabung. Kematian Husein putra Fatimah Az Zahra, putri Nabi Muhammad, menyisakan luka mendalam di benak kalangan Syiah. Hingga kini, umat muslim Syiah masih memperingati kematian Husein di hari Asyura. Ribuan kilometer dari Jazirah Arab, Kota Pariaman tak luput mengenang kematian tragis Imam Husein.
Kesibukan telah muncul sejak awal Muharam, sampai mendekati puncak di hari ke-10. Prosesi Tabuik diawali dengan pengambilan tanah atau maambiak tanah di sungai. Prosesi ini terbagi kedalam dua kelompok, Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Pengambil tanah harus mengenakan kain putih yang bermakna kejujuran. Pengambilan tanah menjadi simbol pengambilan jasad Husein. Tanah yang sudah digenggam lalu dibungkus, sebagai tanda pengkafanan jasad Husein. Selanjutnya tanah diletakkan di sebuah periuk dan disimpan di daraga, tempat yang dibuat khusus untuk prosesi Tabuik.
Setelah mengambil tanah, proses selanjutnya yakni ma'arak sorban, mengenang keberanian Husein bin Ali dalam pertempuran di Padang Karbala.
Sorban Husein diarak, gendang tassa ditabuh, dan warga Pariaman berkeliling kampung. Salah satu rangkaian dari proses panjang ritual Tabuik ini pun mengubah malam di Pariaman yang biasanya sunyi menjadi semarak. Tabuik adalah ritual tua. Berkembang di Pariaman secara turun temurun, dari generasi ke generasi.
Versi pertama menyebut, Tabuik dibawa orang-orang Arab aliran Syiah yang datang ke Pulau Sumatera, untuk berdagang sekitar tahun 1800. Versi lain mengatakan, sekitar abad 14 setelah Hikayat Muhammad diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, ritual Tabuik dipelajari anak Nagari. Disebutkan pula, Tabuik berkembang setelah dibawa Bangsa Cipei atau Sepoy dari India, penganut islam syiah yang dipimpin Imam Kadar Ali. Ketika itu Bangsa Cipei dijadikan serdadu oleh Inggris, saat menguasai Bengkulu dari tangan Belanda.
Tradisi itu kemudian tumbuh di Bengkulu, yang disebut Tabut dan Pariaman, bahkan sampai Banda Aceh, Meulaboh dan Singkil. Sosok lain juga disebut sebagai pencetus Tabuik. Ia adalah Syekh Burhanuddin Ulakan, penyebar islam pertama di Minangkabau dan Bengkulu. Mengenang sosok Husein bin Ali adalah tradisi Syiah, tapi di Pariaman yang sebagian besar penganut Sunni, Tabuik menjelma menjadi sebuah tradisi kebudayaan khas Pariaman. Tabuik yang dilambangkan sebagai keranda jenazah Imam Husein, telah berhias bunga. Pariaman pun kian riuh. Gairah warga meluap menuju puncak perayaan Asyura.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Puncak perayaan Tabuik telah di depan mata. Tanggal 10 Muharam, cucu baginda rasul, Al Husein bin ali, tewas terbunuh. Kaum muslim di Pariaman mengenang keberanian Husein lewat Tabuik. Warga berduyun-duyun naek pangke. Penyatuan dua usungan Tabuik dari Desa Pasa dan Subarang. Mengingat bentuknya yang menjulang hingga belasan meter, Tabuik yang terdiri dari dua bagian atas dan bawah, dibuat di dua tempat. Penyatuan ini mendekati wujud akhir kerangka Tabuik yang siap dilarung ke laut.
Tua muda, laki dan perempuan tumpah ruah di jalan-jalan Pariaman. Keberanian cucu kesayangan rasul di medan Karbala telah menyatukan mereka.
Ikatan persaudaraan dengan sendirinya menguat. Tak ada lagi batas pemisah antara penganut Syiah dan Sunni. Di mata warga, islam adalah satu. Mengenang sosok Husein adalah sebuah penghormatan tertinggi terhadap Ahlul Bayt atau keluarga Nabi Muhammad. Menjelang senja, dua kerangka Tabuik dari dua desa bertemu. Dulu, ketika prosesi Tabuik kental dengan ideologi perang, dua desa yang terpisah Sungai Pariaman ini menjalani tradisi perkelahian.
Kini, rangkaian prosesi itu ditiadakan. Yang tersisa adalah kegembiraan, terlebih lagi ketika dua kerangka diusung bersama menuju Pantai Gondariah. Tak ada peristiwa sebesar ini di Pariaman selain prosesi Tabuik. Warga percaya, rugi tak turut serta dalam perayaan Tabuik yang telah hidup ratusan tahun lamanya di Pariaman. Laut menjadi persinggahan terakhir prosesi. Laut menjadi tujuan, karena sebagai simbol membuang segala hal perselisihan, juga sebagai wujud terbangnya buroq yang membawa jasad Husein ke surga. (IDS/Vin)

Sumber Berita : Liputan6.com


read more →

Cottage Danau Diatas, Tempat Peristirahatan Presentatif

Bersama Ustadz SOLMED dan Gubernur Irwan Prayitno di Cottage Danau Diatas. Setiap ada tamu VVIP yang saya bawa ke Solok Selatan, saya selalu minta izin mampir di Cottage ini utk istirahat sejenak. Krn antara Padang sampai Solok Selatan, maaf BELUM ada REST AREA yg cukup layak utk disinggahi rehat sejenak melemaskan badan, ke toilet, ngopi-ngopi atau minum Teh. Inipun juga agak disayangkan TOILET juga kurang terawat. Jd saya selalu harus NGELES utk itu ihiks..ihiks... Kembali ke Padang dari Solok Selatan, saya ajak lagi mampir ke Cottage ini. Krn kasian utk orang luar Sumbar perjalanan 3-4 jam berbelok-belok itu sangat menyiksa.

Sampai-sampai Ustadz Solmed dalam ceramahnya sempat menyelipkan aspek candaan ttg perjalanan ini utk menyampaikan rasa syukur jadi orang di Sumbar.

Kata Ustadz Solmed, orang di Jakarta kalau mau mabok, datang ke Dufan, bayar masuk Rp.100rb baru naik Kora-Kora. Kalau orang Sumbar, cukup uang 25rb naik Bus ke Solok Slatan
, udah bisa mabok saking belok-belok jalannya. Murah...disini kata Solmed ha..ha...

Point yg ingin saya sampaikan, antara lain:
- Cottage ini sangat strategis posisinya dg view dan udara yg luar biasa...!
- Kebutuhan Rest Area di lokasi-lokasi tertentu di Sumbar ini sudah sangat mendesak.
- Jika Solok Selatan mau ngebut dg Pariwisatanya, cerita "ledekan" Ustadz Solmed ini harus jd pertimbangan utk wisatawan yg mau berwisata.
- Knp perawatan TOILET di Sumbar mayoritas kurang serius ya..? Pd hal semua kita orientasi dan selalu bicara Pariwisata.
- DR. Mahathir bilang: "Kalau kalian belum paham bgmn membersihkan Toilet, jgn ngomong Pariwisata dulu...!".
(Nofrin Nafilus)
read more →

Kesenian Debus Minang, Turis Asing Naik Tangga Dari Pedang

Sejumlah turis asing di kabupaten Solok Sumatera Barat, ikut atraksi naik janjang ladiang atau tangga dari pedang. Mereka menaiki sebuah tangga, yang anak tangganya adalah pedang tajam. Atraksi ini membuat para turis asing merinding tapi juga menyenangkan karna mendapat pengalaman baru.

Untuk menyambut tamu asing, warga nagari Talang Babungo kabupaten Solok, punya banyak cara. Salah satunya dengan menampilkan kesenian, atau atraksi dabuih, atau debus khas Sumatera Barat. Seperti menyambut para pencinta silek Minang yang datang dari manca negara ini, warga menyuguhkan tari piring diatas pecahan kaca, juga atraksi menaiki tangga ladiang, tangga yang terbuat dari pedang.

Untuk memastikan kepada penonton, sang guru memamerkan ketajaman pedang sebelum di gunakan. Di mulai dengan atraksi dua orang penari, menari piring di atas pecahan kaca, tanpa terluka sedikit pun. Kemudian di lanjutkan dengan atraksi naik janjang ladiang. Para turis asing ini pun tak mau ketinggalan untuk mencoba.

Dengan langkah pasti, kaki mereka menginjak mata pedang yang tajam, sebagai pijakan untuk naik anak tangga berikutnya, tanpa terluka. Tentu saja atraksi ini di awasi dan di kendalikan oleh para guru silat yang mempunyai ilmu ghaib.

Terlepas dari itu, bagi turis-turis asing ini, atraksi ini menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan bagi mereka.

”Wow..wow..Amazing, very spectaculer..its new experience” ucap Simon dari Inggris.
Menurut Guru atraksi janjang ladiang, Syamsuardi, atraksi ini sering di gelar pada acara-acara penyambutan tamu atau juga pesta rakyat. ” Para Turis ini tamu kita, mereka tak pernah menyaksikan atraksi ini sebelumnya, jadi mereka sangat antusias bahkan mereka juga mencoba naik tangga ini tanpa terluka oleh pedangnya” jelas Syamsuardi.

Atraksi janjang ladiang memang sudah jarang ditemukan. Peran aktif masyarakat dan pemerintah untuk melestarikan kesenian ini, menjadi penting agar tidak punah di makan zaman.(art)
read more →

Rekor Dunia Sipasan Panjang Terpecahkan Di Padang

Warga keturunan Tionghoa yang tergabung dalam Hok Tek Tong atau Himpinan Tjinta Teman di Padang Sumatera Barat, kamis petang berhasil memecahkan rekor dunia. Rekor tersebut mengusung sebanyak 237 diatas keranda atau tandu yang berbentuk sipasan atau kelabang sepanjang 243 meter dan di usung sejauh 1,9 kilometer tanpa henti. Rekor ini, memecahkan rekor sebelumnya yang di pegang oleh negara Taiwan.

Jalan di kawasan Muara Batang Harau ini, di penuhi ribuan orang yang akan memecahkan rekor dunia. Tandu sepanjang 243 meter, yang di tunggangi anak-anak sebanyak 237 orang dan di usung oleh 1500 orang secara bergantian. Tandu panjang ini di namakan sipasan atau kelabang karna dari bentuknya meneyerupai hewan kaki seribu.

Sipasan ini akan di usung sejauh 1900 meter tanpa henti, agar bisa memecahkan rekor dunia. Rekor ini sebelumnya di pegang negara Taiwan dua setengah bulan lalu, dengan mengusung 200 anak di atas tandu sepanjang 176 meter dan jarak tempuh sejauh 1,7 kilometer.

Menurut Carem Vallario, juri guiness record yang datang khusus dari London Inggris mengatakan, bahwa rekor ini mengenai banyak anak-anak yang di usung di atas tandu panjang. “Ini mengenai banyaknya anak-anak yang di usung di atas tandu tersebut, bukan orang yang mengangkatnya, dan rekor ini sebelumnya punya Negara Taiwan beberapa bulan lalu” jelas Carem.

Selain memecahkan rekor dunia, sipasan panjang ini juga memecahkan rekor sendiri yang tercatat di Musium Rekor Indonesia empat tahun lalu. Sipasan panjang, merupakan tradisi warga keturunan Tionghoa di Padang, yang selalu di gelar setiap tahun untuk menghibur masyarakat dan memeriahkan ulang tahun HTT. Selain di Padang, tradisi ini di Indonesia hanya ada di Kalimantan.

Dalam arak-arakan ini, berbagai atraksi juga ditampilkan untuk menghibur masyarakat kota Padang serta di tutup dengan kembang api.(art)
read more →

Jambore Silek Minang International, Kenalkan Silat Asli Indonesia Kepada Dunia

Seratusan pesilat dari berbagai daerah dan negara asing, mengikuti Festival dan Jambore Silat Minang Internasional di kabupaten Solok Sumatera Barat . Ikut hadir belasan pesilat dari lima negara asing. Selain mendalami silek atau silat minang, mereka juga menampilkan kemampuan beladiri asli Indonesia tersebut. Acara ini juga upaya warga mempertahankan silek agar tidak diklaim milik negara lain.

Jauh di pedalaman kabupaten Solok, tepatnya di Galanggang Aluang Bunian, Nagari Talang Babungo kecamatan Lembah Gumanti, seratusan pendekar silat berkumpul mengikuti festival silek tradisional Minang dan jambore silek internasional yang berlangsung sampai tanggal 29 Agustus 2013. 12 pendekar dan pecinta silat dari Inggris, Irlandia, India dan Jamaika ikut hadir memeriahkan acara yang baru pertama kali diadakan ini.

Mereka berbaur dengan seratus pendekar dari delapan perguruan silat yang ada di Sumatera Barat. Selain atraksi silek Minang seperti silek tuo dan silek kumango, juga digelar pertandingan antar perguruan .

Peserta negara asing juga di uji kehandalannya dalam bersilat. Kehadiran mereka mendapat sambutan meriah dari warga.

Pelaksanaan festival dan jambore ini sebagai upaya yang dilakukan penerus silek Minang untuk melestarikan tradisi nenek moyang mereka . Selain untuk mengenalkan kepada negara asing , bahwa silat merupakan beladiri asli Indonesia.

”Saya sudah belajar silek tuo selama dua bulan di daerah Balai Baru kota Padang di rumah seorang guru. Saya datang jauh dari Irlandia untuk mempelajari Silek ini, karna memang silek Minang sangat fantastis dan punya khas yang tak ada di silat-silat daerah lain” tutur Cormac mc Carthy pesilat asal Irlandia

Sementara itu penggagas digelarnya acara ini, Edwardo Gucci yang juga guru Silek Minang di sejumlah negara di Eropa mengatakan, bahwa tujuannya menyelenggarakan acara ini sebagai bentuk kepeduliannya terhadap silek Minang yang mulai mendunia, namun jauh dari identitas Minangkabau sebagai induk budaya turun temurun ini.

”Perguruan silek Minang sudah banyak beredar di Eropa bahkan Amerika, namun tak ada jati dirinya, jadi acara ini kita gelar untuk mengembalikan jati diri tersebut, serta memastikan kepada dunia kalau Silek itu memang budaya orang Minang” jelas Edwardo.

Selain beratraksi, para warga asing ini juga akan di bawa berwisata ke sejumlah sasaran atau perguruan silat yang ada di kabupaten Solok. Mereka akan diperlihatkan pola latihan silat Minang yang sebenarnya.(art)
read more →

Serak Gulo, Tradisi Warga Keturunan India di Padang Sumatera Barat

Foto:antarasumbar.com
Setiap tanggal 1 Jumadil Akhir dalam penanggalan Islam, warga keturunan India di Padang, Sumatera Barat menggelar tradisi serak gulo atau serak gula. Tradisi itu sengaja digelar untuk mengenang tokoh pembawa Islam di India.

Pantauan Liputan 6 SCTV Sabtu (13/4/2013), tradisi itu dilakukan dengan membungkus gula menggunakan kain lalu disebarkan dari atas atap masjid.

Sebelum gula ditebarkan, terlebih dahulu gula pasir sumbangan dari warga keturunan India di kawasan Kampung Keling Pasar Gadang Kota Padang itu dibungkus kain berukuran kecil. Hal itu dimaksdkan agar gula yang ditebarkan tidak terbuang ke tanah, dan bisa dimanfaatkan oleh warga yang berhasil menangkapnya.

Saat gula-gula itu dibawa ke atas atap masjid untuk ditebarkan, warga pun telah bersiap mengambil ancang-ancang untuk beraksi mendapatkan berkah. Tak lupa, warga pun berdoa kepada yang kuasa dan memanjatkan syukur atas rahmat yang sudah mereka terima.

Acara serak gulo hanya di gelar 1 kali dalam setahun. Di dunia, tradisi serak gulo hanya digelar di 3 tempat yaitu di India, Singapura dan Kota Padang Indonesia. (Tnt)
read more →

Pacu Jawi, Balapan Sapi Khas Tanah Datar Sumatera Barat

Foto : Arie Darmana
pacujawi.com: Pacu berarti lomba kecepatan dan Jawi maksudnya Sapi atau Lembu. Di Sumatera Barat sapi biasa disebut dengan Jawi.  Kegiatan Pacu Jawi merupakan acara permainan tradisional anak nagari (desa) yang lahir dan berkembang di Kabupaten Tanah Datar Propinsi Sumatera Barat.  Kegiatan ini hanya ada di Kabupaten Tanah Datar dan sedikit di Kabupaten 50 Kota.  Di Kabupaten Tanah Datar-pun hanya pada empat kecamatan, yaitu Kecamatan Pariangan, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Lima Kaum dan Kecamatan Sungai Tarab.

Kegiatan pacu jawi telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi sarana hiburan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat. Pada kegiatan ini juga dipadukan dengan tradisi masyarakat berupa arak-arakan (pawai) pembawa dulang/jamba yang berisi makanan dan arak-arakan jawi-jawi terbaik yag didandani dengan asesories berupa suntiang serta pakaian.  Biasanya acara tradisi ini diselenggarakan pada minggu ke-IV atau pada waktu penutupan pacu jawi dan menjadi perhelatan yang besar di daerah itu.  Pada waktu itu juga diadakan prosesi adat oleh para tetua adat serta berbagai permainan seni budaya tradisional.

Di arena pacu jawi juga bertumbuhan warung nasi yang menjual kopi daun, para pedagang kaki lima serta arena permainan anak-anak sehingga lokasi itu terlihat seperti pasar. Pada waktu itulah masyarakat bergembira ria menyaksikan jawi-jawi kesayangan mereka berpacu, dan setelah itu mereka makan di warung-warung dengan makanan spesifik gulai kambing dan kopi daun.

Pelaksanaan alek pacu jawi di Kabupaten Tanah Datar dilaksanakan secara bergiliran pada empat kecamatan.  Acara dilakukan di sawah milik masyarakat setelah selesai masa panen dan tempatnya tidak tetap pada satu lokasi saja.  Bila kegiatan diadakan pada satu kecamatan maka peserta dari kecamatan lain akan berdatangan.  Dalam satu masa perlombaan, jumlah jawi yang berpacu mencapai 500 hingga 800 ekor. 

Pacu jawi diikuti oleh jawi secara berpasangan yang dikendalikan oleh seorang anak joki yang berpegangan pada tangkai bajak. Anak joki dengan tidak memakai alas kaki ikut berlari bersama jawinya di dalam sawah yang penuh lumpur dan air.  Acaranya berlansung mulai pukul sepuluh pagi hingga pukul lima sore.  Pada waktu perlombaan berlansung kadangkala juga terjadi transaksi jual beli jawi oleh para pedagang dan pemilik jawi.  Biasanya jawi yang telah sering memenangkan lomba akan naik harganya hingga dua kali lipat. Jawi pemenang itu akan menjadi kebanggaan bagi pemiliknya dan diincar oleh banyak orang.  Itupun menjadi lambang prestise.

Banyak orang yang belum tahu bagaimana cara penilaian jawi terbaik yang menjadi pemenangnya.  Teknis penilaian inipun penuh filosofi dan nilai-nilai yang baik.  Adapun jawi terbaik adalah jawi yang dapat berjalan lurus tidak miring dan tidak melenceng ke mana-mana.  Dan akan lebih baik lagi apabila jawi tersebut dapat menuntun temannya berjalan lurus.  Berarti jawi itu sehat dan tubuhnya kokoh kuat.  Biasanya dalam satu perlombaan akan terlihat jawi yang berjalan lurus dan yang tidak, bahkan ada yang sampai masuk ke sawah lain. Jadi yang dinilai bukan hanya kencang larinya dan bukan bentuk struktur tubuhnya saja. Filosofinya jawi saja harus berjalan lurus apalagi manusia. Dan manusia yang bisa berjalan lurus tentu akan tinggi nilainya, itulah pemenangnya.

Beberapa manfaat dari pelaksanaan pacu jawi adalah  :
1. Sebagai wadah untuk meningkatkan harga jual jawi sehingga dapat meningkatkan perekonomian peternak.  Kemunian juga  sebagai media untuk meningkatkan kesehatan jawi karena jawinya akan sehat setelah berpacu,
2. Pada acara pacu jawi banyak bermunculan para pedagang sehingga meningkatkan perputaran roda ekonomi yang dapat pula meningkatkan perekonomian masyarakat,
3. Acara pacu jawi menjadi sarana sosialisasi dan hiburan bagi masyarakat yang selalu ditunggu-tunggu,
4. Sebagai alek tradisi masyarakat dimana akan terjadi prosesi adat sebagai aktualisasi nilai-nilai adat di tengah-tengah masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Tanah Datar secara konsisten membina dan mempertahankan kegiatan pacu jawi ini sesuai tradisi dan kebiasaan masyarakat.  Pemerintah lebih banyak memfasilitasi ataupun membantu mengemas acara ini menjadi lebih baik sehingga bisa dipromosikan dan dijual kepada para wisatawan nusantara dan mancanegara.
Sebagai organisasi pengelolanya pada masyarakat sudah ada PORWI (Persatuan Olah Raga Pacu Jawi)  yang ada pada tingkat kabupaten, kecamatan hingga nagari (desa).  PORWI inilah yang mengkoordinir jadwal pelaksanaan secara bergiliran.
read more →

Godog Batinto Hanya Ada Saat Ramadhan di Kabupaten Agam Sumatera Barat

Liputan6.com, Lubuk Basuang: Tim Musafir Ramadan SCTV menjelajahi Kabupaten Agam, Sumatra Barat, hingga tiba di Nagari Kapau. Di sinilah tinggal tiga generasi pembuat godog batinto, kuliner khas yang langka karena hanya diproduksi saat Ramadan. Penganan ini terbuat dari pisang yang ditumbuk bercampur tepung untuk kemudian digoreng.

Meski tengah berpuasa, Amak dan dua orang cucunya tak kekurangan semangat untuk menyiapkan kuliner yang juga menjadi dagangan andalan keluarga ini. Mulai dari menumbuk pisang dengan alat sederhana, kemudian mencampur adonan dengan tepung, hingga mencairkan gula merah yang memakan waktu relatif lama.

Ketika saat menjelang berbuka puasa, keramaian langsung terasa di tempat Amak berjualan. Ternyata, untuk mendapatkan godog batinto buatan Amak ini, pembeli harus antre karena banyaknya pembeli. Untuk santapan saat berbuka, godog memang sangat menggoda, apalagi saat menyantapnya terlebih dulu disiram gula merah.
read more →

Pacu Itik Atraksi Olahraga Tradisional Payakumbuh Sumatera Barat

Foto:Antara
TEMPO.CO, Payakumbuh - Pacu itik atau balapan itik merupakan atraksi olahraga tradisional Minangkabau. Menariknya, pacu itik ini tak diselenggarakan di sungai ataupun perairan yang merupakan habitat unggas itu. Tapi di jalan raya. Seperti yang digelar di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat.

Untuk menyaksikan itik yang saling berpacu, penonton harus menempuh jarak 130 kilometer dari Kota Padang. Biasanya, perlombaan ini diselenggarakan secara bergiliran pada 11 gelanggang di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota. Seperti Aua Kuning, Tigo Balai, Tunggul Kubang, Padang Cubadak, Body Aia Tabik, dan Padang Alai. Dan biasanya, pacuan diawali di gelanggang Rainbow. Hingga hampir tiap pekan di bulan September, tergelar pacu itik oleh Persatuan Olahraga Terbang Itik.

"Perhelatan ini masuk dalam kalender Dinas Pariwisata Kota Payakumbuh dan Limapuluh Kota," ujar Ketua Porti, YB Datuak Parmato Alam. Dan biasanya, ada 700-800 itik dalam tiap pacuan. "Kami menyediakan banyak hadiah. Seperti tabanas, televisi, kipas angin dan kulkas."

Agar bisa mengikuti balapan ini, peserta harus memiliki itik betina berumur 3-4 bulan. Sebelum bertanding, itik harus dikurung dan diurut selama sepekan. Dan setiap petang, si itik harus diajarkan terbang. Makanannya pun khusus, padi dan telur.

Ciri-ciri itik itik bagus, memiliki sayap mirip elang: kedua sayapnya itu mengarah ke atas. Agar dapat terbang lurus dan tinggi. Jika sayap mengarah ke bawah, si itik kerap terbang rendah. "Kalau satu sayap mengarah ke atas dan lainnya ke bawah, itik itu tidak jujur," kata Parmato. "Pasti terbangnya tak lurus."

Itik yang unggul pun bergigi ganjil, tujuh atau sembilan; warna paruh dan kakinya sama, hitam atau kuning; serta memiliki sisik kecil di ujung jari tengah. "Biasanya yang punya sisik itu, itiknya menang," ujarnya.

Kelas pacu itik terbagi empat, berdasarkan jarak. Ada kelas 800 meter dan 1.000 meter, yang dibatasi dengan garis mati. Di kelas ini, pemenangnya adalah itik yang terbang dan mendarat mendekati garis mati. Jika melewati, dianggap gugur. Kemudian ada kelas 1.200 meter dan 1.600 meter. Penilaiannya, itik yang mampu terbang jauh dan mendarat di dalam arena itu.

Satu pemilik itik, Darmon, 28 tahun, sudah mengenal perlombaan ini sejak kecil. "Ayah saya dulu juga sering ikut lomba ini," ujarnya. Sementara, NH Datuak Rajo telah lama mengikuti perlombaan ini. Menurut Rajo, olahraga yang berpadu dengan budaya ini sudah turun menurun. "Pacu itik merupakan kepuasan jiwa dalam berolahraga," kata Rajo. "Ajang silaturahmi juga."
read more →